Minggu, 28 Februari 2016

✿ Begini 3 Akhir Tragis Kehidupan Kaum Gay.




[Hanya Sebuah Nasehat]
✿ Begini 3 Akhir Tragis Kehidupan Kaum Gay.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia juga menurunkan seperangkat aturan sebagai pedoman. Ibarat pabrik yang mengeluarkan suatu produk, disertai dengan manual book-nya. Jika dilanggar, produk itu tidak akan tahan lama atau bisa rusak seketika.

Di antara aturan penting itu adalah tentang perkawinan. Bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, lalu menjadikan mereka sebagai pasangan. Laki-laki hanya bolen kawin dengan perempuan setelah melalui akad nikah yang sah.

Lalu bagaimana jika laki-laki kawin dengan laki-laki seperti yang kini dipopulerkan oleh kaum LGBT? Setidaknya akan ada 3 bahaya besar yang mengancam dan menjadi akhir tragis kehidupan mereka.

Pertama, mereka akan tertimpa penyakit seksual yang berbahaya. Sebab laki-laki kawin dengan laki-laki berarti memasuki tempat kotoran yang menjijikkan. Dari sanalah penyakit-penyakit bermunculan. Mulai dari penyakit kulit eritema, fisura anal, iritasi usus besar, infeksi hingga virus dan penyakit mematikan HIV/AIDS.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui bahwa perbuatan menyimpang itu akan mendatangkan penyakit berbahaya dan bisa menular, mengancam eksistensi kehidupan makhluk-Nya. Karenanya melalui Rasulullah, Dia menurunkan hukuman hudud untuk kaum gay pelaku sodomi.
“Barangsiapa mendapati orang yang melakukan perbuatan seperti yang dilakukan kaum Luth, maka bunuhlah orang yang melakukan sodomi dan disodomi” (HR. Ibnu Majah; shahih)
“Rajamlah bagi yang melakukan sodomi dan disodomi, rajamlah keduanya” (HR. Ibnu Majah; shahih)

Mengapa hukumannya adalah rajam? Salah satu hikmahnya, agar perbuatan keji itu segera terputus dan tidak timbul penyakit menular yang bisa merusak masyarakat dan mengancam kemuliaan kehidupan manusia. Tentu, yang bertindak menjatuhkan hukum itu adalah pemerintah kaum muslimin. Bukan individu, bukan personal.

Kedua, ditimpa azab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam Al Qur’an, Allah mengisahkan kaum Nabi Luth yang berbuat demikian.
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf: 80-81)

Lalu Allah menimpakan azab kepada mereka.
“Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi” (QS. Hud: 82)

Rupanya, bukan hanya kaum Nabi Luth yang menerima azab seperti itu. Kota Pompeii juga mengalami azab serupa pada tahun 79 M. Saat ditemukan oleh para arkeolog pada abad 20, tampak sebagian fosil manusia yang masih dalam posisi terkejut. Selain posisi kematian mereka, banyak lukisan yang menunjukkan masa itu penuh dengan penyimpangan seksual termasuk kawin sesama lelaki.

Meskipun masa sesudah Rasulullah azab berupa penghancuran bangsa ditangguhkan, tidak menutup kemungkinan azab dalam bentuk yang lain akan ditimpakan. Sebagaimana Allah ingatkan dalam surat Al Anfal ayat 25.

Ketiga, laknat Allah yang berujung azab akhirat.

Bagi kaum gay pelaku liwath yang tidak bertaubat hingga kematian menjemputnya, Allah menyediakan azab pedih bagi mereka. Penyakit yang diderita di dunia belum ada apa-apanya dibandingkan dengan siksa neraka.
“Sungguh dilaknat orang yang melakukan perbuatan (liwath) seperti yang dilakukan kaum Luth” (HR. Ahmad; hasan)

Wallahu a’lam bish shawab.


********************


☆ Salam buat isteri :
‘Siti Nurjanah’


✿ Bantahan Telak untuk Orang yang Berkata ‘Saya Bermaksiat atas Kehendak Allah’.




[Hanya Sebuah Nasehat]
✿ Bantahan Telak untuk Orang yang Berkata ‘Saya Bermaksiat atas Kehendak Allah’.

Dalam kajian rutin bulanan di Masjid Raya al-A’dham Kota Tangerang, Pemimpin Majlis al-Bahjah Buya Yahya mendapat sebuah pertanyaan dari salah seorang jamaah. Muslimah. Wanita itu bertanya, “Bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa selingkuh yang dia lakukan merupakan kehendak Allah Ta’ala? Apakah pernyataan tersebut benar?”

Tidak hanya laki-laki yang dijadikan objek pertanyaan oleh Muslimah tersebut, sejatinya banyak sekali orang yang mengaku beragama Islam, tapi berkeyakinan bathil macam ini. Atas nama pemahaman agama dan penyandaran diri kepada Allah Ta’ala, mereka mengklaim bahwa tindakan buruk, maksiat, dan dosa yang mereka kerjakan merupakan bagian dari Kehendak Allah Ta’ala. Sebab Dia Maha Berkehendak. Tiada satu pun yang terjadi di muka bumi dan alam semesta ini melainkan atas izin dari Allah Ta’ala.

“Semua yang terjadi di semesta raya ini,” jawab Buya Yahya terdengar santun dan tegas, “memang atas Kehendak Allah Ta’ala.”  Tiada satu pun kejadian, pun yang paling kecil dan tidak bisa dilihat, semuanya atas Kehendak Allah Ta’ala.
“Akan tetapi,” lanjut dai yang juga pendiri Pondok Pesantren al-Bahjah ini, “Allah Ta’ala juga memberikan kehendak kepada hamba-Nya untuk berkehendak.”

Atas kehendak dari Allah Ta’ala tersebut, seorang hamba bisa memutuskan untuk melakukan perbuatan baik atau buruk. Perbuatan inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala. Jika kebaikan, maka seorang hamba akan mendapatkan pahala. Jika keburukan, maka seorang hamba akan mendapatkan dosa.

Sebagai jawaban pamungkas, sosok yang kerap mengenakan jubah ini memberikan kiat jitu untuk membungkam argumen orang-orang berkeyakinan sesat ini.

Andai bertemu dengan orang yang berkeyakinan seperti ini (yang mengatakan bahwa maksiatnya atas Kehendak Allah Ta’ala), jelas Buya Yahya, “Ambil saja palu. Pukulkan di kepalanya dengan keras.” Jika orang tersebut marah-marah sembari menahan sakit, jawab saja dengan santai, “Itu kan Kehendak Allah Ta’ala!”

Atau, masih menurut beliau, arahkan saja dua tangan Anda tepat di kedua bola matanya. Coblos dua bola matanya. Saat dia menggerutu kesakitan itu, jawab saja dengan berkata, “Loh? Bukannya hal tersebut merupakan Kehendak Allah Ta’ala?”

Terkait takdir ini, kita memang mendapati dua kubu ekstrem. Kubu pertama menisbahkan semua perbuatan kepada Allah Ta’ala, termasuk perbuatan buruk. Sedangkan kubu kedua beranggapan bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun tanpa campur tangan Allah Ta’ala.

Maka akidah ahlus sunnah wal jamaah adalah akidah yang pertengahan di antara keduanya. Allah Ta’ala Maha Berkehendak, tapi Dia memberikan kehendak kepada hamba-hambanya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Mereka meyakini semua kejadian atas Kehendak-Nya, tapi mereka tidak akan menisbatkan keburukan kepada Allah Ta’ala sebab Dia Mahabaik.

Wallahu a’lam.

********************


☆ Salam buat isteri :
‘Siti Nurjanah’


 
;